Puan yang Pada akhirnya Berbicara masalah Dewan Kolonel Sesudah Ancaman Dijatuhkan

Puan yang Pada akhirnya Berbicara masalah Dewan Kolonel Sesudah Ancaman Dijatuhkan

Ketua DPP PDI-P Sektor Politik Puan Maharani pada akhirnya mulai bicara masalah “Dewan Kolonel” yang terserang ancaman oleh Sektor Kehormatan DPP PDI-P. Puan mengatakan, Dewan Kolonel dipandang usai sudah sesudah disanksi.

“Telah usai, PDI-P kompak. Tidak terjadi apa-apa. Itu cuma dinamika dalam intern partai,” kata Puan dijumpai di tempat Sport Centre, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa.

Jawaban Puan itu dikatakan sesudah dia usai olahraga bulu tangkis di tempat Sport Center, atau sama Gelanggang Olahraga punya Kompleks Parlemen Senayan.

Ketua DPR RI ini memperjelas, semua kader akan tegak lempeng dengan ketentuan partai yang satu diantaranya persetujuan untuk ikuti Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri berkaitan pencapresan.

“Pokoknya kita PDI-P kompak dan kita akan ikuti perintah apa yang diinstruksi ketua umum mengenai kemiripan memahami,” katanya.

Perlu waktu lebih satu minggu untuk khalayak untuk dengarkan tanggapan Puan pada Dewan Kolonel, sesudah komunitas itu dikenai ancaman pada Senin di Kantor DPP PDI-P Jalan Diponegoro, Jakarta.

Masih rekat dalam daya ingat saat Ketua Sektor Kehormatan DPP PDI-P Komarudin Watubun jatuhkan ancaman keras ke empat anggota Dewan Kolonel.

Empat kader PDI-P yang anggota Dewan Kolonel yakni Trimedya Panjaitan, Johan Budi, Masinton Pasaribu, dan Hendrawan Supratikno. Keempatnya sebagai anggota DPR Fraksi PDI-P yang mengatakan terus-terang ke mass media memberikan dukungan Puan untuk maju sebagai capres (calon presiden).

Bantu memberikan dukungan calon presiden itu tadi sebagai pertama kali terciptanya sebuah komunitas namanya “Dewan Kolonel”. Bantu bisa saja… Walau memandang permasalahan Dewan Kolonel telah usai, Puan memberi komentar masalah ada bantu memberikan dukungan figur intern PDI-P untuk maju calon presiden

Menurutnya, sebenarnya hal itu tidak jadi masalah asal semua kader masih tetap menghargai keputusan Megawati pada akhirannya. “Semuanya orang bisa memberikan dukungan dan memberi support ke intern yang dipandang oke yang memiliki kemampuan dan kompetensi untuk turut pada proses Pemilihan presiden 2024, tetapi semuanya kita sebagai anggota PDI-P akan turut pada keputusan ketua umum,” kata Puan.

Bekas Menteri Koordinator Sektor Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) itu berpesan ke Dewan Kolonel supaya harus ikuti perintah Megawati masalah pencapresan. Ia juga menganalogikan perintah itu ibarat saat seorang anggota DPR diinstruksi kembali lagi ke wilayah penyeleksian (dapil) masing-masing saat reses.

“Salah satunya pekerjaan yang dikasih anggota fraksi dalam menyosialisasikan beberapa program yang berada di dapilnya atau di wilayahnya atau di daerahnya untuk memberikan saran beberapaya . Maka apa yang sudah dilakukan itu satu hal yang harus dilaksanakan dan atas instruksi ketua umum,” kata Puan.

Tanggapan Dewan Kolonel Dalam pada itu, anggota DPR Fraksi PDI-P yang pencetus Dewan Kolonel, Johan Budi mulai bicara masalah ancaman yang dijatuhkan DPP PDI-P. Diakuinya kegiatannya di Dewan Kolonel malah tidak melanggar ketentuan partai atau bujet dasar/bujet rumah tangga (AD/ART) PDI-P.

Oleh karena itu, Johan balik menanyakan ke Sekjen DPP PDI-P Hasto Kristiyanto berkenaan letak kekeliruannya hingga memperoleh ancaman. “Silahkan bertanya ke Pak Sekjen argumennya apa, pelanggaran AD/ART? Darimanakah demikian, bertanya saja,” tutur Johan saat dijumpai di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa.

Johan memperjelas, dianya cuma kader biasa yang selanjutnya ingin menolong Puan untuk publikasi ke warga. “Maknanya beberapa yang memberikan dukungan Mbak Puan Maharani. Masalah capres-cawapres kita taat, runduk pada keputusan Ibu Ketua umum Megawati,” tutur ia.

Tidak untuk serang Ganjar Anggota Komisi III DPR itu memperjelas jika Dewan Kolonel dibuat tidak untuk serang akan calon presiden yang lain di intern PDI-P yakni Gubernur Jawa tengah Ganjar Pranowo. Dia malah suka bila ada sama-sama kader PDI-P yang mempunyai kepopuleran tinggi sebagai figure calon presiden.

Tetapi, dia memperjelas, masalah opsi calon presiden, masing-masing kader bisa mempunyai penglihatan yang lain. “Tetapi masalah opsi kan, bisa donk saya pilih memberikan dukungan atau menyosialisasikan Mbak Puan Maharani,” kata Johan.

About admin

Check Also

Mangkir Rapat, Komisi I Meminta KSAD Dudung Lebih Hargai DPR

Mangkir Rapat, Komisi I Meminta KSAD Dudung Lebih Hargai DPR Komisi I DPR RI melangsungkan …