Code Keras Jokowi dari Senayan

Code Keras Jokowi dari Senayan

CARA dan laris berpolitik Presiden Joko Widodo (Jokowi) memang berbeda, rapi tetapi juga tidak terselinap. Seperti bermain kesantunan ala-ala “telik kode”, walau sebenarnya bisa jadi pemula secara mudah membaca tanda itu sebagai pesan.

Bahkan juga saat media mencecarnya sebagai sebuah signal support ke Prabowo Subianto, dengan tenang Jokowi menyilahkan pengakuannya itu disimpulkan demikian.

“Ya disimpulkan signal ya bisa, tetapi kan saya bicara tidak apapun,” kata Jokowi. Apa yang ada dari pengakuan Jokowi pada acara Pergerakan Nusantara Berpadu yang dituruti oleh beberapa ribu sukarelawan dari beragam wilayah di Stadion Khusus Gelanggang olahraga Bung Karno Jakarta, Sabtu, bawa pesan yang serupa.

Bisa disebut Jokowi tidak lagi sama dengan dahulu bila sedang bermain dengan politik.

Apa ini momen “endorse” ke-2 , sebelumnya setelah secara terbuka Jokowi seperti memberikan angin ke Prabowo. Saat dengan bergurau Jokowi menjelaskan sesudah ini peluang Pemilihan presiden 2024 porsinya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang disebut pesaingnya di dua pemilihan presiden awalnya.

Pengakuan itu dikatakan Jokowi saat memberikan sepatah kata pada acara HUT Perindo di iNews Tower, Jakarta Pusat, Senin (7/11). Saat itu Jokowi menyebutkan, “Saya ini 2x wali kota di Solo menang, selanjutnya tarik ke Jakarta, gubernur sekali menang”.

“Selanjutnya 2x di pemilu presiden menang juga. Minta maaf, Pak Prabowo,” tutur Jokowi saat itu. “Keliatannya sesudah ini porsinya Pak Prabowo,” ikat Jokowi. Dan memang Jokowi digotong untuk maju pemilihan presiden dan 2x sukses memenangi kontestasi politik itu.

Code rambut putih versi Istana dan muka “cling” Cerita menarik dari Jokowi saat menyebutkan seorang pimpinan dapat kelihatan dari bagaimana performanya.

Saat itu Jokowi menjelaskan, “Perlu saya berikan. Perlu saya berikan, pimpinan, pimpinan yang memikirkan rakyat itu terlihat dari wajahnya.” Pertama, menurut Jokowi, seorang pimpinan yang pikirkan rakyatnya akan kelihatan dari rambutnya, sebagai pertanda pimpinan yang pikirkan rakyat. “Ada yang memikirkan rakyat sampai rambutnya putih semuanya ada.

Ada itu,” kata Jokowi disongsong bising beberapa sukarelawan. Ke-2 , Jokowi minta sukarelawan untuk berhati-hati pilih pimpinan yang wajahnya ‘cling’.

Bila pimpinan tidak ada keriput di muka, Jokowi minta sukarelawan berhati-hati. Dan signal ke-2 ini diperuntukkan ke pesaing yang mana, sudah pasti secara mudah beberapa sukarelawan Jokowi atau pemula bisa membaca sinyalnya.

“Saya ulangi . Maka, pimpinan yang memikirkan rakyat itu terlihat dari performanya, dari keriput di mukanya. Jika mukanya cling, bersih, tidak ada keriput di mukanya berhati-hati. Saksikan , saksikan rambutnya jika putih semua ‘wah mikir rakyat ini’,” jelasnya. Begitupun saat menyebutkan “code” istana.

Seterusnya Jokowi menambah, “Tidak boleh tentukan figur yang cuma suka duduk di istana. Janganlah sampai, janganlah sampai…kita pilih pimpinan yang kelak cuma senangnya duduk di istana yang AC-nya dingin. Janganlah sampai, saya ulangi, janganlah sampai kita pilih pimpinan yang suka duduk di istana yang AC-nya benar-benar dingin,” ungkapkan Jokowi.

Saat menyebutkan signal ini seakan Jokowi tidak lagi punyai beban politik, seperti harus manjaga unggah-ungguh ke siapa.

Dibalik cerita politiknya yang rileks, Jokowi sebetulnya sedang main “pesan telik kode”, melemparkan pertanda yang gampang didefinisikan secara politik, tetapi buat beberapa pesaing berkeringat dingin saat itu juga. Ini ialah pesan semiotika.

Rasanya tidak perlu mengundang ahli pembaca pesan, atau pakar kode rahasia, pakar pembaca mimik muka, karena semiotika biasanya dipakai untuk membedah tanda, bisa jadi berbentuk lambang, atau icon, juga bisa dipakai untuk menerjemahkan bacaan komunikasi verbal atau non-verbal.

Tetapi saat Jokowi melempar dua signal, “istana dan rambut putih” ke beberapa ribu sukarelawannya, itu ibarat memberikan “pesan langsung”, jika pimpinan dari istana yang diartikan ialah penguasa elite yang walau usaha merakyat akan kelihatan dari triknya yang terlampau normalitas dan dipaksa. Hingga saat merakyat, malah semakin tidak populer.

Begitupun saat menjelaskan tanda supaya pesan dengan pimpinan yang “cling”, wajahnya tanpa keriput, memasangkan muka suka tanpa sedikitpun ada penekanan di garis mukanya. Seperti kata Jokowi otomatis sebagai tanda pimpinan yang tak pernah pikirkan rakyatnya.

Siapa saja bisa berlainan opini dan tidak sepakat, tetapi signal tersebut yang mencoba dimainkan Jokowi lewat pesan semiotikanya itu. Secara mudah akan ditujukan pada siapa, sudah pasti akan gampang diterka.

Berikut nikmat dan serunya saat “pesan anonim” dilempar ke khalayak dengan pertanda yang gampang dikenal. Saat tafsiran khalayak secara cepat ke arah ke pesaing politik lain, bisa jadi secara mudah Jokowi akan berbicara, “bukan saya lho yang ngomong demikian, tetapi kalian sendiri yang menerjemahkan”. Lebih kurang seperti pernah di ngomong Jokowi saat memberikan code keras untuk Prabowo. “Ya disimpulkan signal ya bisa tetapi kan saya bicara tidak apapun,” kata Jokowi.

Signal support Prabowo-Ganjar Signal kuat itu benar-benar menolong beberapa sukarelawan Jokowi untuk melakukan tindakan di atas lapangan.

Ke siapa dua pesan Jokowi itu akan ditujukan, dan siapa sebetulnya sebagai opsi Jokowi dalam Pemilihan presiden 2024 kedepan. Apa lagi tempo hari jadi teka-teki, dan jadi diskursus supaya Jokowi konsentrasi saja menuntaskan pekerjaan kepresidenannya dibanding mengurus politik pemilihan presiden 2024.

Karena pesan itu secara mudah bisa diterima oleh sukarelawan Jokowi yang nantinya bisa menjadi sukarelawan baru untuk dua figur sebagai opsi Jokowi.

Support Jokowi pada Pemilihan presiden di depan, minimal ke arah dua figur, yaitu Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto, karena ke-2 figur itu dipandang setia dan loyalitas pada program Jokowi yang memiliki kepentingan dengan legacy kerja hasil dan kepimpinannya.

Berikut kenapa Jokowi bolak-balik memberikan dukungan Prabowo dan Ganjar lewat code politiknya untuk menduetkan Prabowo-Ganjar di Pemilihan presiden 2024. Keadaan politik ini makin buka lebar kesempatan Ganjar yang sejauh ini berasa “dianaktirikan” oleh partai politiknya.

Dan jadi wujud perlawanan lembut menantang dua persaingan yang lain berkesempatan maju dengan kepopuleran yang memberikan keyakinan.

Pasti dinamika politik akan memanas atau bahkan juga menghangat dengan saat itu juga, tetapi yang memikat ialah bagaimana taktik beberapa pesaing “membalasnya” code keras itu.

Apa kemampuan partai, koalisi, kemampuan figur dan bukti kerja sepanjang pimpin, cukup jadi “bargaining power” menantang signal code keras itu. Atau kebalikannya signal itu malah menjadi bomerang yang hendak dipakai musuh untuk cari titik kurang kuatnya.

Karena masih tetap ada barisan partai di luar kemampuan itu yang bisa bermain konsolidasi, dan itu jadi kesempatan baru buat mereka rapatkan barisan baru. Menjaga pemilu damai 2024.

About admin

Check Also

Erick Thohir: Perekonomian Indonesia Masuk Hebat 2 di G20, Bahkan juga di Atas China

Erick Thohir: Perekonomian Indonesia Masuk Hebat 2 di G20, Bahkan juga di Atas China Menteri …